|
Kebangkitan Islam
Kebangkitan Islam, suatu paduan
kata yang sudah tidak asing lagi. Dengan berbagai penyikapan yang berbeda
membuatnya menjadi sebuah angan-angan belaka bagi sebagian orang atau suatu
kepastian yang telah dijanjikan oleh zat yang memberi kita mata, tangan, dan
anggota tubuh yang lengkap, Zat yang menguasai setiap sel tubuh kita dan
bintang-bintang di angkasa. Tapi saudaraku akankah hal itu datang begitu saja
atau kita hanya perlu menunggu suatu sosok pilihan Tuhan yang dengan ucapannya
mampu menggerakkan umat Islam sehingga selama masa penungguan tersebut, harga
diri sebagai muslim dilecehkan seperti saudara kita di Palestina, Chechnya,
Turkistan, Afganistan, Irak dll.
Saudaraku, Rasulullah pernah
bersabda, untuk melakukan suatu perubahan harus dimulai dari diri sendiri.
Bahkan Allah Swt. Berfirman,
”Sesungguhnya
Allah tidak akan merubah (keadaan) yang ada pada suatu kaum sehingga mereka
merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(Q.S.
Ar-Ra’ad : 11)
Para pembaca yang dirahmati
Allah, saat ini apa yang telah difirmankan oleh Allah Swt. Dan dicontohkan oleh
Rasulullah Saw. Telah banyak diabaikan. Terbukti banyak penyimpangan dan
kemaksiatan yang tanpa rasa malu dipertontonkan bahkan didukung. Sangat
berbahaya sekali apabila kita hanya menunggu utusan dari langit yang bergelar
Al-Mahdi atau lainnya, tanpa adanya usaha-usaha kolektif. Akibatnya hanya
menimbulkan pemahaman yang bermentalkan layak terbelakang dan kalah serta lebih
menonjolkan aksi individu yang dapat menyuburkan semangat individualisme dan
egoisme.
Kalau demikian, usaha apa yang
diperlukan untuk kebangkitan Islam? Hal ini diperlukan usaha-usaha kolektif
dimana usaha pertama kita adalah merubah paradigma pemikiran dan pendidikan
umat. Dengan meluruskan aqidah dan memurnikannya tanpa embel-embel ideologi
menyesatkan dapat mengikis habis virus-virus yang menggerogoti imunitas
internal umat ; sekulerisme, pluralisme, liberalisme, komunisme dll.
Usaha berikutnya, menjalankan amar
ma’ruf nahi munkar (mengajak pada kebaikan dan menjauhkan dari keburukan).
Gerakan masif yang dimulai dari individu-individu yang menengadahkan wajahnya
ke langit dan bersujud dengan bersimpuh kepada Allah, Zat yang Maha menentukan
segala apa yang ada di Bumi dan di Langit, dengan berpusat kepada Ulama yang
Ikhlas, sudah dapat dipastikan akan tumbuh suatu generasi yang mampu
menggemakan Asma Allah dan kemuliaan Islam pada setiap jengkal di Bumi ini.
Tanpa harus menunggu sosok SUPERHERO.
Sudahkah kita berpikir untuk apa kita di dunia
ini? Apakah setiap Shalat yang dilakukan sudah dipahami maknanya? Mengapa harus
malu dalam kebaikan dan bangga pada keburukan? (Ahn/Medis Fusi)
|
|
|
Tazkiyatun Nafs dan Ikhlas
Ibarat pisau
bermata dua : ia bisa menjadi organ tubuh paling taat , atau menjadi yang
paling maksiat; mendorong pemiliknya untuk mengorbankan jiwa dan raga, atau
membujuknya menjadi pecundang, memotivasi kekerasan tanpa belas kasihan atau
pengabdian tanpa batas.
Ialah yang
menentukan hitam putihnya akhlaq seseorang. Ia pula yang menjadi barometer
kinerja seluruh anggota badan. Jika ia baik maka baiklah seluruh raga, jika ia
buruk, buruk pulalah seluruh raga. Demikianlah sabda nab, oleh sebab itu,
perbaikan dan penjagaan kondisi hati merupakan kebutuhan tak terelakkan. Tazkiyatun
nafs adalah kunci agar kita selamat di akhirat.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Rasulullah Muhammad SAW di Mata Cendekiawan Barat
Pada dasarnya
ada dua cara untuk mengenal tokoh-tokoh besar. Pertama ialah dengan mempelajari
pemikiran, karya dan peninggalan-peninggalan tokoh ini. Begitu pula bila kita
ingin mengenal Rasulullah SAW, dapat dikatakan bahwa jalan terpenting untuk
mengenal Rasulullah SAW ialah melalui Al-Quran. Sebuah kitab pemberi petunjuk,
yang menurut Zeoul Labum, peneliti dari Perancis, “Al-Quran adalah lautan
ilmu yang melahirkan banyak cabang di sana-sininya. Muslimin
mengambililmu-ilmu dari Al-Quran lalu mengalirkannya ke seluruh belahan dunia.”
|
|
Selengkapnya...
|
|
|