|
Training Motivasi : "Menghadapi Kehidupan Pasca Kampus" |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Medis FUSI
|
|
Saturday, 17 May 2008 |
|
Rohis Teknik Sipil berhasil mengeluarkan sebuah acara Training Motivasi yang bertajuk "Menghadapi Kehidupan Pasca Kampus". Motivation Training yang diadakan pada hari Jum'at 9 Mei 2008 dan bertempat di gedung Engineering Center ini dibawakan oleh "Sang Provokator", Ari Chandra Kurniawan. Ari Chandara Kurniawan dalam penyajian materinya memaparkan beberapa langkah untuk dapat berhasil di kehidupan setelah keluar dari dunia kampus. Langkah pertama yang ia anjurkan adalah untuk memiliki "daya magnet" yang maksudnya adalah daya untuk menarik segala sesuatu yang kita inginkan, untuk itu kita harus senantiasa menembah nilai jual kita dan menyiapkan "Infrastruktur Sukses". Langkah kedua adalah untuk menjadi orang yang "Bermental Pegas". untuk itu kita harus menjauhi masalah, jaga jarak dengan masalah, ketika kita melihat masalah itu sedari jauh maka masalah itu akan terlihat kecil. Ada tiga tipe manusia dalam menghadapi masalah, yang pertama adalah "Quitter", yaitu orang-orang yang sudah menyerah ketika akan memulai, yang kedua adalah "Camper", yaitu orang-orang yang berhenti pada tahap-tahap tertentu sebelum mencapai tujuan, dan yang terakhir adalah "Climber" yaitu orang-orang sukses yang baru berhenti ketika tujuannya tercapai, orang-orang ini adalah "The Real Succes Man". |
|
|
Seminar Selamatkan Moral Bangsa |
|
|
|
|
Ditulis Oleh Medis FUSI
|
|
Saturday, 10 May 2008 |
|
Seminar
Selamatkan Moral Bangsa
Mengangkat tema
pornografi, pada 6 Mei 2008, rohis departemen mesin, Mechanical Islamic
Community (MIC) mengadakan seminar betajuk Selamatkan Moral Bangsa. Salah
sorang pembicara, Azimah Soebagijo, Ketua Perhimpunan Masyarakat Tolak
Pornografi menyampaikan materi Pornografi: Dibalik Gugatan Terhadap LSF,
bagaimana masyarakat sebaiknya bersikap?. Beliau menuturkan tentang kasus
penggugatan LSF oleh beberapa insan perfilman, dengan dalih kinerja LSF
mengurangi kebebasan berkarya mereka. LSF sendiri melakukan
sensor, salah satunya, berdasar batasan-batasan muatan pornografi yang
terkandung dalam suatu film.
Di akhir materinya beliau menghimbau agar masyarakat
turut berperan serta menyuarakan penolakan terhadap pornografi, dengan tujuan
agar LSF bisa bekerja sebagaimana mestinya dan tentunya muatan media yang
beredar di masyarakat dapat lebih terkontrol.
|
|
Pemutakhiran Terakhir ( Saturday, 10 May 2008 )
|
|
|